Opini
ketika ane scrolling facebook di pagi hari, di tl ane lewat banyak sekali postingan terkait dolar yang hampir menembus angka 18k, ane kira itu postingan dari grup timpa teks, tapi jika dipikir pikir, timpa teks walaupun penyebar hoax tapi gk mungkin bisa separah yang membuat dunia rusak. dan jika di konfirmasi ulang secara mandiri, hal tersebut benar.
memang hal tersebut salah satu penyebab nya adalah perang di timur tengah, lalu disamping terkait dolar ini, ane pengen sedikit beropini terkait kondisi ekonomi yang sangat sulit belakangan ini.
sebelum masuk ke pembahasan utama, pengen bahas dulu terkait bbm non subsidi yang sangat jauh harga per liternya. perlu untuk dipahami, bahwa penggunaan bbm non subsidi speerti pertabo yang saat ini naik karena kebijakan men esdm, dalam pandangan orang awam, mereka sering mengasosiasikan bahwa orang orang dari kalangan menengah ke atas lah yang menggunakan bbm jenis tersebut, pada kenyataan nya, penggunaan bbm tsb sebenernya bukan terkait kondisi ekonomi pengguna nya, tapi ke kondisi kendaraan nya. dengan regulasi yang semakin ketat terkait pengurangan emisi gas buang, pabrikan pabrikan membuat motor dengan kompresi yang tinggi dan disarankan untuk menggunakan oktan tinggi untuk menjaga baik dari performa, mesin, maupun hasil dari pembakaranyang efisien. orang orang kalangan menengah kebawah yang menggunakan kendaraan tsb pun mau tidak mau harus mengikuti hal tersebut, walau memang dapat mengurangi pengeluaran mereka, namun sangat buruk untuk jangka panjang. selain pembakaran yang kurang maksimal yang mengakibatkan emisi yang buruk, juga pada kesehatan mesin nya sendiri. pada kasus motor motor generasi baru, penggunaan bbm dengan oktan rendah bisa menyebabkan knocking atau ngelitik dan lama kelamaan bisa merusak komponen yang pada akhirnya dapat merugikan mereka karena harus mengganti part tsb, mana jika dilihat part part original itu malah lebih mahal daripada part part aftermarket berkualitas. jadi menurtu ane kenaikan (yang tinggi) ini kurang adil buat masyarakat umum.
terkait bbm ini cukup membebani ya, belum lagi ada wacana tentang dihilangkannya bbm subsidi pertalite di beberapa daerah. mungkin karena banyak yang beralih ke pertalite, bisa membuat kuota jebol subsidi jebol, belum lagi dari beberapa postingan di grup otomotif seperti motuba, bahwa harga pertamax lebih murah dibanding harga pertalite sebelum dipotong oleh subsidi, yang mana akan sangat membebani APBN
lanjut untuk masalah utama dari pembahasan ini adalah terkait program MBG yang merupakan perogram resmi rezim ini. ane sendiri kemarin tidak mendukung siapapun saat pemilu a.k.a gk nyoblos. tetapi jika dilihat dari berita berita yang berseliweran di internet, beberapa media menyoroti tentang ketidakefisienan dari program ini. nyatanya dari hasil pantauan pengamat ekonomi, bahwa program ini lebih banyak merugikan masyarakat dibandingkan menguntungkan. beberapa artikel menyebutkan bahwa pendanaan program ini sangat besar, ada yang membandingkan bahwa untuk satu hari MBG saja hampir dapat mendanai pendidikan puluhan ribu siswa-mahasiswa yang tidak mampu untuk 1 tahun.
ya oke ane gk akan menyalahkan program ini, karena pasti ada tujuan ‘baik’ nya, tapi yang jadi masalah itu penggunaan dana nya yang sangat boros, kita tahu terkait pemborosan anggaran belanja modal operasional BGN yang tidak menyentuh target MBG itu sendiri. dari artikel pun, KPK dan lembaga transparansi mengrkitik bahwa bgn terlalu fokus pada kejar tayang penyerapan anggaran dalam jumlah fantastis, ttpi mengabaikan integritas proses pengaddan nya, seperti pembelian ribuan molis (katanya agenda titipan) yg justru membebani pos anggaran yg awalnya diambil dari dana pendidikan (sumber kompas).
lalu terkait masalah rekrutmen sdm di tingkat sppg bener bener memicu ketimpangan sosial yg nyata di lapangan. celah ini dimanfaatkan oknum buat nyari cuan dan banyaknya penerapan nepotisme di lapangan.
yang kita tahu (bahkan dari grup publik sppg yang blunder) memperlihatkan bahwa gaji mereka sangat tinggi (padahal disebutnya relawan, tapi malah digaji njir), bukan masalah sirik tapi karena justru membuat ketimpangan ekonomi yang cukup tinggi ditengah sulitnya mencari pekerjaan bagi masyarakat umum dan kaum minoritas (apa mungkin ini 19 juta loker yang dijannjikan???).
yang mana hal tersebut sangat menguntungkan bagi oknum dan pelaku nepotisme. dan karena banyak rekrutan yang justru tidak ada keahlian terkait gizi ataupun tataboga profesi, maka isu tentang siswa keracunan mbg adalah valid. dan menu makanan seringkali tidak dihabiskan sisw akarena rasa yang kurang cocok atau penggunaan olahan produk yang tidak tepat standar, yang mana sangat mubazir dan merugikan biaya
ya jadi apa konklusi nya? pemerintah menganggap mbg sbg investasi jangka panjuang dan penggerak ekonomi desa yg harus jalanterus, tapi bagi publik dan para ekonom “sehat”, program ini dinilai dipaksakan terlalu terburu buru, sarat akan pemborosan fasilitas (spt molis), dan rentan menjadi ladang nepotisme baru yang merugikan anggaran esensial lain. jadi intinya apa? kembali lagi ke fitrah orang indonesia korup dari jaman daendels, dari perspektif dan laporan di atas mungkin berjalan baik, tetapi kenyataan nya, mayoritas yang terdampak akan merasakan bahwa program ini tidak efisien dan justru malah lebih membebani mereka.
jadi apa inti dari postingan ini? kondisi ekonomi di negara sedang hancur karena adanya konflik di timur tengah, legeg nya AS, dan juga pengalokasian mbg yang tidak sesuai.
exit strategy? wallahualam
cek silang berdasarkan data yang dilampirkan oleh tim A hl I
-
Dolar Hampir Tembus 18k
Status: Akurat. Postingan di Facebook yang agan lihat bukan sekadar hoaks “timpa teks”. Saat ini (Mei 2026), nilai tukar Rupiah memang sedang terpuruk parah di kisaran Rp17.400 - Rp17.500 per dolar AS (sempat menyentuh level terendah). Banyak ekonom dan pengamat pasar modal yang sudah membunyikan alarm bahwa Rupiah sangat rawan jebol ke angka Rp18.000 akibat memanasnya tensi geopolitik di Selat Hormuz (AS vs Iran), larinya modal asing (capital outflow), dan beban fiskal negara. -
BBM Non-Subsidi & Teknis Mesin Kendaraan
Status: Akurat & Edukatif. Argumen agan soal BBM non-subsidi (seperti Pertamax/Pertamax Turbo) yang erat kaitannya dengan spesifikasi mesin ketimbang sekadar “status sosial” sangat tepat. Motor-motor keluaran terbaru memang dirancang dengan rasio kompresi tinggi untuk mengejar efisiensi dan standar emisi. Memaksa minum bensin oktan rendah (seperti Pertalite) pada mesin kompresi tinggi memang memicu knocking (ngelitik), penumpukan kerak karbon, dan pada akhirnya merusak komponen internal mesin yang biaya servisnya jauh lebih mahal. -
Pemborosan Anggaran MBG & Isu “Molis”
Status: Sangat Akurat. Sentilan agan soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemborosan anggaran BGN (Badan Gizi Nasional) sangat on point dengan berita terbaru bulan April-Mei 2026. BGN memang sedang dikritik habis-habisan oleh DPR dan publik karena membeli puluhan ribu unit motor listrik (Molis) bertipe trail seharga puluhan juta per unitnya. Pengadaan yang menelan triliunan ini dinilai sangat tidak efisien dan menggerus pos anggaran esensial lainnya. -
Kisruh SPPG, Nepotisme, dan Kasus Keracunan
Status: Akurat 100%. Isu soal rekrutmen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang rawan nepotisme dan tidak diisi oleh ahli gizi/tata boga terbukti dari kacaunya tata kelola di lapangan belakangan ini. Terkait isu keracunan, tebakan agan valid. Baru-baru ini di bulan Mei 2026:
- Terjadi kasus ratusan siswa keracunan MBG di beberapa daerah (salah satunya yang viral di Surabaya).
- Terungkap bahwa banyak SPPG beroperasi tanpa Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
- Per tanggal 12-13 Mei 2026, pemerintah sampai harus men-suspend lebih dari 1.700 SPPG di seluruh Indonesia karena tidak memenuhi standar kelayakan dan kebersihan.
daftar pustaka
-
Arifin, R. (2026, April 22). Kenapa BGN Beli Motor Listrik yang Belum Jelas Dealer-nya? Detikoto. https://oto.detik.com/motor-listrik/d-8456273/kenapa-bgn-beli-motor-listrik-yang-belum-jelas-dealer-nya
-
BeritaSatu. (2026, April 13). Motor Listrik BGN Dipertanyakan, Transparansi Jadi Isu #beritasatu [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Jc2KQnYLtb0
-
Safrina, A. (2026, May 11). Wawali Surabaya Armuji Sidak SPPG Usai Siswa Keracunan: Memenuhi Standar semua. KOMPAS.com. https://surabaya.kompas.com/read/2026/05/11/173408078/wawali-surabaya-armuji-sidak-sppg-usai-siswa-keracunan-memenuhi-standar
-
Safrina, A. (2026b, May 13). Keracunan MBG di Surabaya, Natalius Pigai: Dipastikan Dapur SPPG yang Bermasalah. KOMPAS.com. https://surabaya.kompas.com/read/2026/05/13/155044878/keracunan-mbg-di-surabaya-natalius-pigai-dipastikan-dapur-sppg-yang
-
Mawardi, I. (2026, May 14). Komisi IX DPR Dapat Info Dapur MBG Ditutup Bukan 1.738, tapi 4.000 SPPG. Detiknews. https://news.detik.com/berita/d-8488484/komisi-ix-dpr-dapat-info-dapur-mbg-ditutup-bukan-1-738-tapi-4-000-sppg
-
Mulyono, S., Gunawan, G., & Maryanti, B. (2014). Pengaruh Penggunaan dan Perhitungan Efisiensi Bahan Bakar Premium dan Pertamax Terhadap Unjuk Kerja Motor Bakar Bensin. JTT (Jurnal Teknologi Terpadu), 2(1). https://doi.org/10.32487/jtt.v2i1.38
-
Dongoran, I. I. (2025, March 6). Pengaruh Knocking pada Mesin Bensin. P3BMS. https://p3bms.uma.ac.id/pengaruh-knocking-pada-mesin-bensin/
-
Liputan6.com. (2019, August 26). Motor Kompresi Tinggi Dipaksa Minum BBM Rendah Oktan, Ini Akibatnya. liputan6.com. https://www.liputan6.com/otomotif/read/4046695/motor-kompresi-tinggi-dipaksa-minum-bbm-rendah-oktan-ini-akibatnya
If this article helped you, please share it with others!
Some information may be outdated





